Tanggal 8 Juni 2009 akan menjadi hari yang bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kalau tidak ada ‘halangan yang berarti’ maka tanggal tersebut akan menjadi tonggak sejarah peradaban politik bangsa Indonesia. Pemilihan Umum yang ke-10 bagi bangsa Indonesia atau Pemilu yang ketiga pada era reformasi. Pada hari itulah nasib bangsa ini akan ditentukan oleh sebuah proses yang dinamakan Demokrasi.
Tentunya banyak masyarakat Indonesia yang telah menantikan tanggal tersebut. Berbagai tanggapan yang beragam dari masyarakat, ada yang optimis Pemilu akan berjalan dengan baik dan berkualitas tapi ada pula yang pesisimis pemilu tidak akan menghasilkan apa-apa dan Cuma menghambur-hamburkan uang Negara (rakyat). Bahkan yang lebih “bodoh” ada yang tidak mau memilih dengan berbagai alasan yang rasoinal. Dan mereka mengatasnamakan golongan putih alias golput. Sikap mereka itu sangat kita sayangkan sekali, walaupun dengan alasan apapun yang intinya hanya merugikan Negara.
Mereka tidak sadar bahwa proses demokrasi yang berjalan ini semuanya menggunakan uang rakyat. Dan mereka tidak sadar berapa besar uang rakyat yang dipergunakan untuk sebuah proses demokrasi tersebut. Maka apabila kita tidak menggunakan hak pilih kita dengan alas an dan tidak ada “udzur”, maka hal itu sama dengan memubadzirkan harta sendiri. Karena pemilu ini dibiayai oleh uang kita sendiri (baca:rakyat).
Ada tiga alasan kenapa harus memilih. Pertama, orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan baik atau menyia-nyiakannya. Maka sejatinya dia adalah termasuk orang yang memubadzirkan harta (uang yang digunakan untuk pemilu). Hal ini sangat dikecam oleh Al-Qur’an surat Al-Isra :27 “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Kedua, ketika umat Islam golput atau tidak banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya maka ini ada pihak-pihak yang diuntungkan. Karena ini sudah menjadi para misonaris agar kekuasan Negara ini tidak dikuasai oleh umat Islam. Yang pada akhirnya mereka yang berkuasa atau paling tidak orang yang tidak peduli terhadap agama Islam.
Ketiga, apabila kita menginginkan suatu perubahan maka kita harus ikut berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi ini. Tanpa adanya partisipasi dari kita perubahan yang kita harapkan tidak akan berjalan dengan baik.
Hal terpenting untuk diingat adalah golput adalah bukanlah solusi untuk perubahan. Kalau kita tidak setuju dengan wakil rakyat (DPR) yang tidak peduli kepada kita. Maka sekaranglah saatnya untuk menghukum mereka dengan tidak memilih mereka kembali. Perbuatan golput merugikan Negara, dan uang Negara berarti uang rakyat (kita). Maka gunakanlah hak pilih kita dengan cerdas dan kreatif. Pilihlah yang berbaik diantara yang
Rabu, 18 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar